Menjemput Cahaya


“Akan menjadi sosok seperti apa aku ketika tua nanti?” Ribuan ekspektasi singgah dalam lamunanku, mempertontonkan sepenggal episode kehidupan masa depan yang subjeknya pun masih abu-abu. Terlepas dari mimpi-mimpi yang ku azzamkan di masa mudaku kini, aku tak membayangkan apakah kelak aku betul-betul akan meraihnya. Aku hanya membanyangkan aku, keluarga kecilku, dan rumah impianku. Hm lagi pula, aku tak akan lupa, selalu ada kemungkinkan bahwa Izrail akan menjemputku lebih dulu. Aku tidak akan berharap banyak pada dunia ini. Walaupun sungguh masih banyak tanda tanya yang tak kunjung menjadi titik. Akan akan menjadi sosok wanita seperti apa aku kelak. Jika memang masa mudaku kini bisa menjadi refleksiku di masa yang akan datang, aku tak bisa bayangkan betapa banyaknya hal yang harus aku benahi, tentang aku terhadap diriku, sekitarku, dan yang terpenting adalah bagaimana aku terhadap penciptaku.

*Menjemput Cahaya Pertama*

Aku pernah merasakan jauh dari Tuhanku, bahkan sedikit usahaku untuk mendekat. Kerjaanku hanya naik gunung dan naik gunung, kegiatan yang kulitnya adalah “Tadabur alam” untuk mendapat izin orangtua, namun daging dan isinya hanya kami dan Allah yang tahu. Lambat laun Allah menyentuh hatiku, hingga aku disibukkan dengan organisasi lain. Empat tahun berkecimpung dalam organisasi tersebut sangat cukup memutar setir kehidupanku. Kepribadianku berubah dari 70% extrovert menjadi 60% introvert! Aku cukup kaget sebetulnya melihat hasil tes MBTIku saat itu.

Aku merasakannya. Aku tidak kehilangan jiwa berontak itu, hanya aku dan Allah yang tahu ketika hatiku degap degup ingin memuntahkan sesuatu, menelan ludah, memendam amuk. Akan selalu ku ingat turning point yang menyebabkanku jadi pribadi yang jarang bicara ketika tidak diminta, Kamis malam pada bulan Agustus 2015 di Balairung Fakultas Kehutanan. Bukan sebuah trauma, aku hanya belajar dari kesalahan.

Aku memaki diriku saat itu. Hijrahku masih sebatas penampilanku, hatiku mungkin masih batu. Aku mulai membatasi interaksiku, aku mulai membina dari mulai asistensi PAI hingga mentoring di SMA. Aku betul-betul ingin membetot diriku, membiasakan diri dalam lingkaran-lingkaran seperti ini, lingkaran yang memaksaku untuk memperbaiki diriku sendiri dan memperbaiki hubunganku dengan penciptaku. Hingga Allah menyentuh hatiku lebih dalam lagi. Mengganti musim panas yang kering melanda hati ke musim semi yang berbunga. Aku mulai merasakan candu. Pada intinya, aku menemukan cahayaNya dalam lingkaran kecil ini.

*Cahaya Kedua : Belum Usai*

Ribuan ekspektasi tadi kembali singgah dalam lamunanku, mempertontonkan kembali sepenggal episode kehidupan masa depan yang subjeknya pun masih abu-abu. Demi sepenggal episode tersebut, aku menjadi wanita penuh ambisi, niat lillah pun sering kali campur aduk dengan urusan duniawi. Aku mulai mempertanyakan eksistensiku sebagai sosok perempuan di masa yang akan datang. Akan menjadi apa. Bersanding dengan sosok seperti apa, atau malah tidak bersanding dengan siapa-siapa. Masihkan aku bisa belusukan ke hutan. Akankah ambisi ini terus mengusik hingga ku tua kelak. Semua masih menjadi rahasiaNya.

Beriringan dengan segala kebaikan Allah yang memberi banyak rezeki kepadaku, kebaikan Allah dalam menutup aib-aibku, Allah mengujiku dengan pujian-pujian yang disandangkan kepadaku. Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah! Aku mengecek kembali hati ini. Hey! Apa kau benar melakukan semua ini tanpa mengejar duniawi?! Kekhawatiranku akan niatku semakin menjadi-jadi. Aku harus banyak belajar dari sosok Uwais Al Qarni! Aku tidak nyaman dengan kondisi hati seperti ini.

Belum lagi aku singgung masalah amanah akademik dan organisasiku yang semakin mengundang banyak tanya. Dapat topik penelitian tentang mutasi makhluk hidup itu rasanya penuh tanya “Apa ini benar?” “Apa ini berkah?” “Apa ini tidak melanggar fitrah?”. Selalu seperti itu, terlepas dari sekian banyak drama penelitian selama 9 bulan ini, aku menyelesaikan semuanya, dengan tanda tanya yang sebetulnya banyak berubah menjadi titik. Aku banyak berdiskusi dengan orang baru. Melihat sudut pandang ilmu pengetahuan lebih dari sekedar menghafal nama satwaliar dan pepohonan seantero kampusku. Lalu kegiatan organisasiku yang entah bagaimana aku menyebutkannya. Sebut saja BEM, walau sebetulnya ini lebih dari itu. Empat tahun menggeluti lingkaran organisasi ini, dari mulai bocah polos, bocah yang mulai kritis, bocah yang mulai tahu, hingga bocah yang sudah semakin tahu banyak hal. Aku sungguh merasakan prosesnya, khususnya perubahan sesosok ekstrovert menjadi introvert. Sebetulnya ingin sekali aku teliti faktor mana yang berpengaruh nyata dalam perubahan kepribadian ini. Apakah karena selalu beurusan dengan nota-nota, apa karena terisolir terlamu lama dalam ruangan steril, atau karena materi-materi mentoring dan buku-buku yang ku baca, atau bisa jadi karena teman bergaulku. Entahlah, yang jelas, aku berubah.
.
.

.*to be continued*

Komentar

Posting Komentar