Alhamdulillah proses distribusi skripsi sudah kelar hari ini. Nabilah Amany sebentar lagi resmi jadi Sarjana! Sejujurnya gak begitu bangga. Merasa terbebani dengan status ini. Terbebani karena hutan masih kebakar, karena kayu masih jadi komoditas andalan, dan karena hasil penelitian saya pun masih belum sebegitu berdampaknya untuk sektor kehutanan di Indonesia. Dibilang pesimis pun tidak. Saya sudah mengalami masa-masa terpuruk itu di semester 3, masa dimana saya yakin bahwa degradasi dan deforestasi hutan itu nggak ada obatnya selain tobatnya stakeholder yang ada #merasasuci. Buku yang saya baca saat itu pun nggak jauh dari buku-buku kebijakan, sertifikasi, dan ekonomi kehutanan. Favorit saya buku karya Pak Prof. Dodik Nurohmat yang menguak bobroknya sektor kehutanan di Indonesia, sukses bikin saya semakin pesimis sama sektor Kehutanan saat itu, Prof!
Judul
proposal penelitian pertama yang saya buat pun tentang proses mediasi stakeholder hutan adat, melihat
banyaknya tumpang tindih antara hukum negara dengan hukum adat. Beraharap bisa
menghilang sejenak dari kota kelahiran barang satu atau dua bulan untuk
penelitian. Namun betapa indahnya takdir Allah, melalui perantara ibu saya,
Allah mengarahkan saya kepada hal baik lainnya, walau sejujurnya proses pindah haluan
ini cukup panjang dan penuh drama. Pada akhirnya, setelah menetapkan hati, saya
memilih kultur jaringan sebagai peminatan saya, dengan segala resiko yang ada,
benar-benar dengan segala resiko yang
ada *sengaja di bold, haha. Saya
mulai membaca. Di awali dengan 2 buku karya Pak Edhi Sandra (yang pada akhirnya
menjadi dosen PS saya), lalu buku Prof. Zulkarnain, diselingi dengan
jurnal-jurnal terkait kultur jaringan. Allah semakin menetapkan hati saya di
sini.
Sejak
saat ini saya mulai menulis, artikel, paper, bahkan hanya abstrak yang pada
akhirnya melalui jalan itu lah Allah membawa saya ke Istanbul dan Bangkok untuk
lebih mendalami ilmu tersebut. Kesempatan baik lainnya mulai berdatangan
setelah itu.
*Drama Penelitian*
“Saya minta topik
penelitian Nabilah nanti tentang mutasi Pule Pandak, ya!” sahut Bapak saat
pertama kali bimbingan. Saya mengiyakan… dengan penuh tanya. Benar-benar penuh tanya. Saya mulai baca pustaka sebanyak-banyaknya,
apa itu mutasi, seperti apa itu Pule pandak, dan peretelan-pertelan lainnya,
mengandalkan diri sendiri, saking nggak adanya
teman diskusi tentang topik ini *hiks. Hingga dipertemukanlah saya dengan Pak
Supriyanto (dosen PS2), yang menambah rumit birokrasi penelitian ini, namun
justru beliau lah yang pada akhirnya paling berjasa selama proses bimbingan. Singkat
cerita (harus banget disingkat, haha), saya berhasil mendapatkan data 3 bulan
pengamatan saya untuk diolah. Alhamdulillah semua masih sesuai timeline.
Pertengahan Juli selesai ambil data, akhir Juli pergi PUK (Praktik Umum
Kehutanan) selama 1 bulan sembari olah data dan mencicil pembahasan, akhir
September bisa seminar, November sidang, Desemeber lulus, Januari wisuda, dan
langsung fokus IELTS sembari hubungi sensei-sensei untuk minta LOA, dan
April-Juli saya akan persiapkan semua berkas-berkas pendaftaran LPDP. Ya,
kira-kira begitulah manusia satu ini membuat rencana hidupnya. Hingga Allah
menghapus timeline saya satu per satu dari awal, dan menggantinya kepada waktu
yang terbaik untuk saya.
*PUK dan drama mistis di dalamnya*
28 Juli 2017 saya siap
berangkat ke Sancang Barat bersama geng jalur
B (mahasiswa Fahutan angkatan 52) didampingi oleh partner asisten terbaik, Arif
dan dosen pembimbing lapang terbaik juga, Pak Abdul Haris. Sebelumnya keputusan
untuk mendaftar sebagai asisten PUK sudah direncanakan jauh-jauh hari, walau
sempat dilema karena harus meninggalkan amanah kampus saat fase-fase penerimaan
mahasiswa baru, saya mantapkan niat saya lagi untuk mendaftar, mengingat
urgensi pengondisian yang cukup besar, ladang amal yang besar, ladang berilmu,
ladang silaturhami, dan ladang besar juga untuk mencari rezeki Allah. Dengan
izin Allah pun, saya terpilih.
Dipisahkan selama hampir 2
pekan di masing-masing ekosistem hutan, sampai akhirnya seluruh perserta
kembali dipertemukan di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW), Sukabumi untuk
kegiatan manajemen hutan dan industri hasil hutan. Sangat berharap dengan
sinyal yang selalu ada, dengan mess
khusus asisten dengen colokan dan meja yang memadai untuk mentengin laptop dan
mencicil pembahasan, alhamdulillah ekspektasi berbalas manis dengan realita
yang ada. Hingga satu per satu “mereka” mulai berdatangan, bukan untuk gangguin
saya, tapi gangguin adik-adik praktikan, ya walau secara tidak langsung saya
ikutan terganggu juga, haha. Sejak
malam pertama menangani kejadian itu, saya berusaha nggak takut, walau diplototin, diteriakkin, dan kerudung
ditarik-tarikin. Malam-malam berikutnya saya jalani dengan lebih waspada,
amalan yaumiyah betul-betul lebih
saya jaga, reminder untuk solat isya
dan ngaji sebelum briefing malam
betul-betul harus ditegaskan kepada beberapa anak yang rentan terkena gangguan,
walau pada akhirnya, muncul lagi dan muncul lagi ke permukaan. Jelas, hal ini
berimbas kepada jam begadang saya, yang harusnya jam 12 ke atas masih bisa
lanjut pembahasan di ruang tengah, muncul rasa deg-deg an, parno sama
suara-suara kecil, sering curi-curi pandang ke jendela, haha sungguh cupu iman
ini.
*Drama Penelitian (Lanjutan)*
“Pak, sepertinya saya
harus tambah waktu pengamatan sampai bulan ke-5”, pinta saya ke dosen
pembimbing seusai cek tanaman saya di lab setelah rehat sebulan karena PUK.
“Bodoh! Apa ini tindakan bodoh? Bukankah keputusan ini akan merusak semua timeline yang sudah direncanakan?” gumam saya dalam hati. Bagaimanapun, saya telah mengatakannya. Saya akan menjalaninya. Hati saya
terlanjur penasaran bukan main dengan data-data baru saya, in syaa Allah saya nggak menyesal . Oktober berlalu. Saya
masih berkutat dengan konsultasi pengolahan data hingga dosen minta melakukan
analisis kimia dengan GCMS, saya mengiyakan selama biaya penelitian ini masih
ditanggung dosen saya. Saya belajar kembali, dari mulai metode ekstraksi,
pemilihan pelarut, sampai metode GCMS itu sendiri. Menunda kembali, walau
sebetulya untuk sesuatu yang sama sekali tidak membuat saya rugi. November
berlalu. Saya sudah siap dengan makalah seminar saya walau hasil GCMS masih
data mentahan. Satu tahap terlewati pada 28 Desember 2017.
Memasuki 2018. Di awali
dengan Ujian Akhir Genetika dan Pemuliaan Tanaman, saya harus menunda siding
karena nilai matkul tersebut belum keluar. Akhirnya kembali memantapkan hati
unutk melaksanakan sidang akhir saya setelah kegiatan Youth4Move (Tour 3 Negara
Asia dari Baktinusa). Dosen pun mengizinkan, dengan imbalan saya harus memasukkan
hasil GCMS ke dalam materi pembahasan skripsi dan akan diujikan saat sidang.
Saya mengiyakan. Dengan izin Allah, saya pun menyelesaikan semuanya pada
Februari 2018.
Saya betul-betul ingat
mimpi yang saya azzamkan ketika semester 5, saya harus lanjut s2 di luar negeri.
Jerman, Jepang, dan Belanda jadi 3 negara yang betul-betul saya idamkan. Saya
sempat gagal paham bagaimana mimpi itu bisa merasuk begitu saja, mengambil
cukup banyak porsi waktu yang saya habiskan untuk mempersiapkannya. Saya
berusaha lillah! Karena saya paham
tanpa ridho dan berkah dari Allah semua ini tidak akan ada artinya. Sejujurnya
hanya satu hal yang paling saya khawatirkan akan keputusan ini, salah niat. Ternyata Allah semakin
mendekatkan saya dengan mimpi itu. Berbekal skor prediction IELTS yang ada,
Allah memberi tawaran melalui Dompet Dhuafa untuk mendapat pembinaan intensif
hingga tes IELTS yang sesungguhnya. Beberbekal peneletian tentang genetika
tanaman hutan, Allah mengirimkan Pak Supriyanto yang secara tiba-tiba
menawarkan beasiswa 20% untuk studi master di UPM, Malaysia. Maa Syaa Allah.
Optimisme saya semakin menjadi-jadi, hati ini semakin tenang, saya fikir Allah
meridhoi mimpi besar saya yang satu ini. Tapi……… mungkin belum untuk tahun ini.
Allah membalikkan hati saya begitu saja beberapa bulan ke belakang ini. Saya
sadar betul hidup adalah pilihan, untuk memilih mana yang baik dari yang buruk
dan untuk memilih mana yang lebih baik dari yang baik.
*Menjemput Cahaya*
"De, gimana kalau mondok di Cirebon aja di tempat Ust. Ahsin? Beliau guru besarku di IIQ, hafizh dan ahli qiroat sab'ah. Orangnya baiiik banget. Tawadhu pula. Favorit mahasiswi IIQ hihihi. Istri beliau alumni IIQ juga"
Allahu Akbar! Mata pun berkaca-kaca. Setelah
perjuangan cukup panjang mencari pondok selama berbulan-bulan, terbayar sudah
rasanya saat pesan tersebut sampai ke chat whatsup saya.
Dengan segala hambatan-hambatan yang ada, sempat saya berpikir Allah tidak
meridhoi saya untuk fokus menghafal Qur'an, astaghfirullaaah 😢Namun nyatanya, Allah mengirimkan
banyak pertolongan hingga saya dapat menjemput cahaya ini. Melalui Ibu, Bapak,
keluarga-keluarga terdekat, yang saya mohonkan keridhoan mereka untuk melepas
saya satu tahun ini. Setelah ini, saya pasrahkan kepada Allah tentang mimpi-mimpi besar saya
sebelumnya. Mimpi besar yang sama-sama pernah saya tangisi kepada Allah
untuk mengabulkannya.
Ya,
saya akan menjemput salah satu cahayaNya di sana, cahaya yang akan saya bawa, dan kelak saya akan menyebarkannya. Sehingga dimana pun saya berpijak nantinya, cahaya itu akan
selalu ada dalam diri saya, sebagai bekal utama, untuk menjadi penerang, bagi siapapun
yang Allah berkehendak untuk menyentuh hatinya.
***
Hingga saat ini, ghiroh
studi lanjut pun masih meluap-luap di hati. Namun entah bagaimana ghiroh yang
satu lagi itu jauh lebih bergejolak untuk saat ini. Rasanya perasaan seperti ini
harus saya segerakan, sebelum ghiroh yang bergejolak itu mereda dan menghilang.
Saya hanya ingin menunda, bukan untuk melupakan. Saya akan jadikan masa penundaan
ini sebagai salah satu bentuk persiapan, yang menurut saya sangat penting untuk menjadi bekal utama ketika menjalani studi lanjut di negeri orang. Saya mohonkan
kepada Allah untuk selalu memantapkan hati ini, bahwa memang ada urgensi mengapa
saya harus tetap melanjutkan studi saya bahkan setelah satu tahun ini,
bahwa ada urgensi kenapa impian saya sebagai dosen harus tetap saya
perjuangkan. Bahwa ini bukan semata tentang diri ini, namun ini semua tentang
agama ini, dan keberlanjutan dakwah di jalan ini.
Ditulis oleh Nabilah Amany yang alhamdulillah SKL nya keluar hari ini (07/03/2018)
x

Komentar
Posting Komentar