I wrote this based my on real experience when I joined Winter Program in Kyoto University last 17 - 28 January 2017.
*First Impression*
Aku ingat salju pertamaku selama hidup
ini. Di perjalan menuju Earthship Guesthouse di Kyoto dari Bandara Kansai Osaka
pada 18 Januari 2017, aku dibangunkan dari tidurku “Itu, salju.” Seketika
hilang kantukku, ku keluarkan kamera ponselku dan mengabadikan momen romatis
itu, iya melihat rintik salju dari balik jendela mobil itu, romatis buatku.
It has been 4 years since Kyoto had its
snows. Although the forecast already told me that Kyoto will snow for these 2
days, still, I cant describe the feeling when I saw them directly, oh Allah,
how lucky I am T_T
Kyoto Guesthouse - The Earthship adalah guesthouse untuk ku dan teman-temanku selama 2 minggu ke depan. Guesthouse kecil yang sederhana, namun siapa sangka, ternyata ia menjadi tempat persinggahan ternyaman. Namo dan Akina san adalah pasangan suami-istri pemilik guesthouse, yang sapaan "Ohayou dan Oyasuminasai” rutin kami dengar setiap pagi dan malam. They’re proof than Nihonjin (Japanese) are nice and friendly, sadly I admit that they’re even more friendly than Indonesian :(
Kyoto Guesthouse - The Earthship adalah guesthouse untuk ku dan teman-temanku selama 2 minggu ke depan. Guesthouse kecil yang sederhana, namun siapa sangka, ternyata ia menjadi tempat persinggahan ternyaman. Namo dan Akina san adalah pasangan suami-istri pemilik guesthouse, yang sapaan "Ohayou dan Oyasuminasai” rutin kami dengar setiap pagi dan malam. They’re proof than Nihonjin (Japanese) are nice and friendly, sadly I admit that they’re even more friendly than Indonesian :(
Lalu Nihonjin pertama yang berbicara
dengn kami adalah Ibu-Ibu yang satu bus penjemputan dengan kami. Kami tak cakap
berbahasa Jepang, namun, aku juga tak paham kenapa Ibu tak hentinya berbicara
kepada kami layaknya kami paham. Dan hal seperti ini benar-benar buka terjadi
satu kali, tapi berkali-kali terutama ketika kami menunggu city bus di halte,
dan beberapa kali di dalem city bus.
Belum lagi sensei-sensei yang
mendampingi kami sealama program ini. Aku bersama teman fakultasku berdiskusi
banyak dengan sensei dari Laboratory of Forest and Biomaterials science.
I love
the way he responds. I have no idea whether our questions or opinions about
forestry makes sense to him or not. But the point is, I realized I belong in
this forestry sector. At least, aku bersyukur bahwa aku nggak nyasar 3 tahun
ini belajar tentang kehutanan.
I have a plan. But I don’t know what
kind of future Allah will take me to. But I do hope, I will always work in
something that I love, and here I feel like I could give my everything to
expertise this study field. Again, I am burned!
Based on my first day here, the weather,
the people I met, I felt so sure, I will be in love with this program.
*People I met*
For the several times of my
life, aku kembali dipertemukan dengan pelajar-pelajar Indonesia yang amant
inspiratif :)
I spent my first and second
nights here with abang senior Fahutan ku angkatan 45. Di ajak jalan-jalan ke
tempat baru itu sejujurnya bonus buat ku, termasuk ditraktir juga itu sungguh
bonus, tapi my point is, pasti ada sesuatu yang aku bisa dapatkan lebih dari
itu, pengalaman. Malam pertama kami sekedar bahas transportasi dan makanan
halal di Kyoto. Sedikit juga kami membahas masalah studi dan program yang kami
ikuti. Sedikit sekali kami membahasa tentang beasiswa dan tetek bengknya karena
dibatasi oleh waktu. Jujur kalau sudah membahas beasiswa, atau pengalaman
daftar s2, aku lagi haus-hausnya akan hal itu, begadang semalam suntuk pun rela
sebetulnya, tapi aku harus menelan segala egoku, jadi mahasiswa s2 disini tentu
lebih sibuk dari yang kubayangkan, apalagi sebagai seorang awardee beasiswa
tentu ada tanggungjawab lebih dari pelajar biasa :'
Malam kedua, bonusnya adalah ditemenin
beli sepatu bekas di jumble store. Semua bermula dari fieldtrip hari ini yang
mengharuskan sepatku menembus salju yang cukup tebal, pulang dari kampus pun
hujan salju cukup lebat dan aku lupa bawa payung :p alhasil, kuputar balik otakku untuk dapat
sepatu boots yang bisa aku pakai esok hari. And guess what, I got my boots in
jumble store for only 500 JPY. Itu seharga sama ongkos kesana, atau biaya
sekali makan. Dari awal aku sudah rela kalau boots ini harus kutinggal di Kyoto
atau kuberikan ke yang lain saja.
Jumble store di Kyoto itu hampir menjual
segalanya :D Dari mulai baju, sepatu, dompet, topi, dan sebagainya, semua
dijual dengan harga miring. Walau pada akhirya untung-untungan saja, karena ada
juga barang-barang yang memang dijual dengan harga mahal :’D Dan orang yang
menjual barang bekasnya ke jumble store ini memang tidak bertujuan untuk
business stuff, karena kadang barang yang kita berikan ke jumble store hanya bernilai
5-10 JPY atau bahkan ada yang dihargai 0 JPY, itu sih tidak berharga artinya :D
Dan pihak jumble store sendiri yang akan menentukan harga jual barang bekas
tersebut.
Additional info yang tadi
juga adalah bonus, hadiah utamanya adalah perbincangan saat dinner kali ini :D Berhubung
kali ini aku ajak Mba Vera (Orang LIPI yang lagi test S3 di Kyodai, kebetulan
sore ini baru sampai di guesthouse, dan tanpa mikir panjang langusng aku ajak
keluar untuk nemenin aku ketemu bang wahyu). Sebetulnya awalnya aku bingung
juga tentang topik apa ya yang sekiranya nyambung untuk kita bertiga, setengah
jam aku ngobrol sama mba vera, aku udah click karena fokus mba vera di LIPI
adalah etnobotani (salah satu matkul ter’ngangenin’ di departemenku wkwk :p*)
at least bias nyambung. Dan alhasil, dinner kali ini aku sungguh jadi pendengar
paling beruntung (Terima kasih Allah).
Bang, sama loh aku, masih besar
keinginanku lanjut s2 di Gottingen, bahkan rela aku nitip tulisan namaku ke
temanku yang kuliah di jerman. Sedih juga aku, dengar kuota LPDP untuk s2 di
luar negeri itu dikurangi, rasanya, semakin jauh aku dari mimpiku.
Tapi aku tetap yakin Allah akan kasih rezeki
sesuai dengan usahaku, dan aku gak mau menyarah!
Berkali-kali aku dikecewakan oleh mimpi,
namun tak jarang pula mimpiku membawaku terbang, bahkan sampai ke Jepang saat
ini. Betapa baik Allah kepadaku.
Sempat aku berfikir, ketika
Allah masih menahan mimpiku, tentu karena aku masih banyak melalaikan nikmat
Allah yang masih ada didiriku, tapi seketika nikmat Allah yang lain berdatangan
layaknya durian jatuh pada tempatnya. Malu aku, sebaik itu ternyata Engkau
kepadaku T_T
Malam ini, kembali aku sadar akan
pentingnya menjalin sebuah relasi. Minder ketika hanya bisa menyimak percakapan
mereka yang membicarakan pertemuan dengan professor, ikut proyek dengan
professor, dan hal-hal besar lainnya. Semenara aku, masih tertahan di tahap
ini. Bukan aku mengerdilkan diriku sendiri, aku hanya, minder, sama aja sih :p
Untuk lanjut kuliah di Jepang, salah
satu kunci utamanya adalah relasi dengan sensei di univ tersebut. Ibaratnya,
sebelum kita melamar di uni tujuan kita, kita harus lamar dulu profersor uni
tersebut, ketika lamaran sudah diterima oleh prof, maka prosedur aplikasi
lainnya seakan-akan hanya formalitas belaka, itu inti yang aku dapatkan.
Hal ini diperkuat dengan perbincanganku
dengan Bu Emma, salah satu staff di Kyodai sekaligus dosen ARL di Faperta. Di
usia ke-38 beliau sudah menyabet gelar Doktor, sekaligus menjadi ibu dari 2
orang anak. Sugoi!
Beliau menempuh doktoralnya
di Kyodai berkat rekomendasi dari Pak Ernan (Dulunya Dekan Faperta, dan
juga alumni Kyodai), rantai relasi ini menjadi kunci utama bagi satu generasi
ke generasi berikutnya untuk melanjutkan pendidikan di Kyodai, tapi tetap saja
point terpentingnya adalah a good personality and work professionally.
*Daily Activities*
Esok hari dan hari-hari berikutnya mulai
berjalan pagi hari. Subuh di Kyoto sekitar jam 05.30 dan aktivitas di kampus
dimulai sekitar pukul 10.00. Untuk kegiatan filedtrip di luar kampus, bis kami
berangkat pukul 8.
Sistem perkuliahan di sini sepertinya
sama saja dengan kampus di Indo. Menarik atau tidaknya tergantung materi yang
dibawakan sesuai dengan keahlian kita atau tidak, dan bagaimana pembawaan
sensei dalam mengajar pun sangat mempengaruhi mood peserta dalam mendengarkan.
Perkuliahan di atas jam 12 pun sama saja
mengudang kantuk yang luar biasa. Slide “Thank you” pun masih sama-sama jadi
slide yang ditunggu-tunggu. Lalu apa bedanya? :’D
Kegiatan fieldtrip sangat menyenangkan.
Mengunjugi banyak greenhouse, pabrik kayu, hutan tradisional, desa tradisional,
dan dapat pejelasan langsung dari senseinya selama di lapang itu feels like “oh
I see”, even sometimes bagian greenhouse dan peretelan teknologinya banyak
betul yang belum aku mengerti.
Seriously, I need to learn more!
Pukul 4 sore biasanya kami sudah
selesai, untuk beberapa kegiatan fieltrip ada yang berakhir pukul 6. Ba'da
magrib aku rutin keluar malam, entah hanya sekedar makan malam atau jalan-jalan
ke shopping centre. I don’t know why Japanese stuffs are so kawaiiiii alias
lucu. Aku gak bohong jalan-jalan ke Kawaramchi, Disney, Daiso itu bikin kalap.
Makanan favoritku selama disini hanya
vegtable curry. Ramen, udon, sushi, hwek, belum ada yang cocok dengan lidahku,
setengah hati rasanya kalau aku harus habiskan semua makanan itu sampai ke
kuah-kuah beserta daun bawangnya.
Lalu bagaiamana dengan sektor Kehutanan
yang ada di Jepang?
Honestly, kami hanya membahas sedikit
terkait sektor kehutanan, berhari-hari dijejeli kuliah pertanian, pangan dan
teknologi pertanian itu feels like “LOL”. Kalu bukan diskusi mandiri dengan
senseinya, aku rasa rugi sekali kami selama 2 minggu ini.
Isu kehutanan yang sedang booming di
Jepang adalah bagaimana meningkatkan perekonomian industri kehutanan di sana.
Sementara di Indonesia kami masih sibuk membahas kebakaran hutan, konflik
dengan masyarajat, perdagangan illegal, dan banyak isu lainnya. Sepertinya bisa
habis satu postinganku kalau aku harus fokus membahas kehutanan di Indoesia dan
di Jepang.
Intinya banyak sekali prospek penelitian
mengenai kehutanan jika teman-teman memang punya keinginan kuat untuk
melanjutkan kuliah di Jepang. Dan bahkan, 3 mahasiswa kehutanan Indonesia yang
saat ini menempuh s2 di kyodai melakukan penelitiannya di Indonesia.
Jadi, bukan hal yang percuma menurtuku
ketika bisa kuliah di negeri orang namun tetap menghasilkan data penelitian
untuk kemajuan negara sendiri.
*******
Sampai saat ini, tak pernah urung niatku
untuk menjadi seorang peneliti. Cita-citaku tak jauh pula dari profesi akademik, dosen. Pengajar
multitasking yang bisa merambah dunia rumah tangga, proyek kerja, dan yang
terpenting adalah bisa terus membina.
Aku tak tahu akan Allah tuliskan seperti
apa masa depanku kelak. Apakah sesuai dengan apa yang sedang ku usahakan, atau
Allah telah menuliskan skenario di luar dugaanku yang jauh lebih indah?
Kemanapun aku pergi nantinya. I wont be
afraid anymore. Aku punya Allah sang pemilik kerajaan langit dan bumi yang melindungi hambaNya dimanapun ia berpijak. Dan sungguh yang perlu ku khawatirkan
hanyalah aku dan imanku kelak. Semoga Allah senantiasa mengijinkanku untuk
selalu berpegang teguh di jalanNya.
Spesial untuk mereka yang saat ini dan suatu saat nanti pasti ku kangenin :
Ka Angga, Ka Tika, Ka Unge, Ka Immas, Dhini, Cindy, Ka Nadhil, Ka Afi, Siva, Zia, Ka Inez, Arif, Kibar, Ka Septian, Rasis, Yui, Kaori, Ohara san, dan jejeran profersor Kyodai.
Kyoto, 27 January 2017
Nabilah Amany
















Semangat Bil, semoga nanti bisa dapat beasiswa kuliah S2 di Jepang, aamiin.. :D
BalasHapuswuoh bang! sudah lama tak buka blog. Doainnya semoga dapat yang terbaik aja lah bang hoho hatur nuhun!!!
BalasHapus