Bukankah keberanan itu hanya milik Allah? Pun ketika ada di dunia ini, kebenaran pasti ada di atas langit kan?
Aku tau mereka memang lebih
soleh/solehah dari pada aku. Mungkin juga ketika di sepermpat malam aku baru
mau tidur, mereka lah yang justru terbangun untuk ambil wudhu. Aku juga yakin,
pemahaman mereka jauh lebih tinggi dari aku, karena jelas buku-buku yang mereka
baca lebih banyak dari aku. Tapi apakah alasan-alasan itu cukup? Untuk
membenarkan semua perkataan mereka? Mengiyakan semua keputusan yang mereka
buat? Lalu sebenarnya masih adakah hakku untuk menentukan mau kemana sebenarnya
aku ini? Aku gamau dibilang bandel, pun aku emang gamau jadi anak buah yang
bandel. Tapi walaupun pada akhirnya aku mengiyakan semua ini, pertanyaan itu
masih tetap ada. Sampai kapan pilhanku harus ditentukan oleh orang lain?
Aku ingin menjadi bulan. Dengan
sisi gelap dan sisi terangnya. Ketika ia menghadap ke bumi, aku terbius oleh
cahayanya, secara otomatis otakku menyanyikan lagu Cahaya Bulan – Eros feat.
Okta. Sekarang aku memikirkan bahwa di balik cahayanya itu, bulan memiliki sisi
gelap yang tak pernah aku lihat. Tapi yasudahlah, aku tak peduli dengan semua
itu. Bagiku sudah cukup terangnya bulan yang menemani perjalanan pulangku malam
ini. Bagiku kegelapan adalah masa lalu. Semua orang memiliki itu, walau tidak
semua masa lalu setiap orang itu gelap. Aku pun sudah berdamai dengan masa
lalu. Untuk apa mempermasalahkan itu? Cukup lihat aku seperti bulan yang kau
lihat setiap malam. Terang, bukan?
***************

Komentar
Posting Komentar