Mengapa kini aku yang dipersulit?
Aku sendiri yang memutuskan untuk berlari ke tengah hiruk
pikuk jalan raya
Aku sendiri yang memutuskan untuk segera mengakhiri hidupku
ini
Mengapa aku malah berakhir di dalam buih?
Aku tak pernah sekalipun meminta wanita itu membelokkan
stirnya untuk menghindari aku
Bukan kuasaku juga untuk melepaskan sabuk pengaman darinya
hingga tubuhnya terpelanting keluar
Kini, mengapa aku yang dimintai pertanggungjawaban akan
kematiannya?
Tak bisakah kalian samakan ini dengan kasus kecelakaan dan
membiarkan aku pergi sesegera mungkin
Atau anggap saja aku pembunuh
Jika nyawa harus dibayar nyawa, aku bersedia membayar lebih
dari itu
Saat keluarganya berdatangan tak hentinya mereka mencaci
maki diriku
Melihat tatapan dan luapan emosi mereka seakan mereka ingin
membunuhku
Jika borgol ini tidak mengerat kedua tanganku, sudah kucekik
diriku satu jam yang lalu
Mengapa bapak harus menahan mereka?
Jika kasus ini seleasi ketika aku mati
Mengapa bapak mempersulit semua ini?
2 jam sudah aku diteriaki ibunya
Diteriaki saudara-saudaranya
Sungguh ini lebih menyakitkan dari yang kubayangkan
Aku semakin merasa tidak pantas untuk hidup
Aku berjanji pada diriku sendiri
Untuk mengakhiri semua ini sesegera mungkin!
*******
Tentu itu bukan kisahku
Walau sejujurnya aku pun masih mengabu-abukan makna takdir
Sekarang aku teringat percakapan kami di teras rumah warga,
tepat di samping Rawa Gede, Lembah Cikoneng
“Mengapa kamu terus merokok ketika sudah jelas pada
bungkusnya tertulis ‘merokok membunuhmu’?”
“Hidup dan mati itu takdir Allah, merokok 10 bungkus sehari
pun tidak akan membunuh jika Allah belum menakdirkan. Lompat dari tebing pun
belum tentu menghilangkan nyawa seseorang jika Allah belum berkehendak.
Seharusnya kamu lebih paham tentang itu, Long.”.
Aku sebenarnya ingin tertawa geli. Sebegitu pahamkah ia
mengenai takdir Allah?
Aku kembali bertanya,
“Mengapa kamu tetap merokok di dekatku ataupun di dekat
teman-teman perempuanmu yang lain? Bukankah kamu tahu menjadi perokok pasif itu
lebih berbahaya daripada menjadi perokok aktif? Dan bukankah kamu menyayangi
kami sebagai saudara-saudaramu?”
Ia tertawa dihadapanku. Bodohnya aku dan teman-temanku yang
lain untuk berada di dekatnya katanya. “Jauhilah aku ketika aku sedang merokok.
Karena bukan aku yang harus menghindar, tapi kamu”
Detik itu aku sadar. Kita mungkin bisa tetap berbagi, suka
maupun duka, tawa maupun air mata. Berbagi makanan dan minuman, berbagi alas
dan selimut tidur, dan berbagi pundak untuk bersandar. Tapi untuk hal yang ini,
bahkan ia rela melepas semuanya. Ya aku sadar, rokok itu jelas oksigen dan karbohidrat
baginya. Aku sadar. Dan aku menerimanya dan teman-temannya apa adanya saat itu.
“Jangan benci aku karena aku masih merokok atau malas solat
5 waktu. Kamu tau seorang pembunuh saja bisa bertaubat dan berkahir menjadi
seorang ustadz jika Allah menakdirkan? Di sini ada orang baik seperti kamu dan
yang masih hancur seperti aku. Sama halnya di dunia ini. Ada orang baik, ada
orang jahat. Banyak orang baik yang asalnya juga dari orang jahat. Ini namanya
sistem keseimbangan. Kamu gak bisa bayangin kan kalau di dunia ini cuma ada
orang baik atau cuma ada orang jahat?”
Semalaman aku memikirkan kalimat-kalimatnya. Kalau saja aku
punya teteh mentoring pasti langsung aku keluhkan pikiran ini kepadanya.
Sampai di rumah pun aku terus memikirkan hal itu.
Sampai-sampai aku menulisakan kisah ini sebagai
‘Permasalahan Islam di Sekolahku’ di buku tugas regenerasiku. Senangnya ada
yang berkomentar, “Allah tidak akan mengubah suatu kaum sebelum kaum itu
mengubah dirinya sendiri” Ia berkata, “Semangat berdakwah”.
Aku malah tertawa, saat itu malah aku yang sangat butuh
untuk didakwahi.
Tapi aku bersyukur pada waktu yang lambat laun memisahkan
kami
Dan kini aku kembali dipertemukan oleh takdir
Dengan sekelompok manusia yang memiliki bayangannya
Tapi aku tidak ingin jatuh seperti dulu
Bukan sebuah trauma untuk bergaul dengannya, juga
teman-temannya
Aku hanya tidak ingin lagi merasakan dilemma seperti dulu
Bertahan dengannya dengan mempertaruhkan keimananku
Aku memilih untuk menutup diri dari segala yang akan
mengingatkanku tentangnya
Terlebih lagi melibatkan diriku kepada sesuatu hal yang akan
menjeratku kepada interaksi di masa lalu
Sejujurnya aku tak kuasa melupakan masa lalu
Bersentuhan sedikit dengan alam bebas pun cukup untuk
membuatku kembali memutar memori itu
Keterlaluannya aku yang sering menyelipkan namanya dan teman-temannya di sepertiga malamku
Sementara aku tidak sesuci itu, meminta kepada Allah untuk
memaafkan segala kesalahnnya
Memohon kepada Allah untuk segera memberikan hidayah
kepadanya disaat aku tahu
Saat ini pun ia masih malas solat 5 waktu
Dahulu aku tidak seburuk itu
Pun saat ini aku juga tak sebaik yang sekitarku pikirkan
tentang aku
Aku sungguh belajar dari masa lalu
Mungkin hanya dengan mendo’akannya
Menjadi pilihanku untuk berterima kasih kepadanya
Aku memohon kepada Yang Maha Menakdirkan sesuatu
Jauhkan aku dari segala perkara yang membawaku kembali ke
masa itu
Sekalipun itu perkara kecil yang membuatku lebih banyak
memikirkannya dibanding memikirkan-Mu.
Nab! assalamualaikum~ lagi singgah nih gue haha. kepoin ah :p
BalasHapusWa'alaykumusslm, hai zonakapurdea yang punya logo baru wkwkwkw selamat 5 tahun ya! Jangan lupa kalo pulang lagi ke Indo bawain Gon sama Killua ya :D
HapusTakdir.. Suatu hal ghoib yang banyak orang tertipu karenanya.. Karena alasan takdir, orang pun menyalahkan Tuhannya.. Na'udzubillahi min dzalik.. :(
BalasHapus