Araso, Nadia.

Re-post dari blog seorang sahabat yang ditulis pada 24 September 2013

bagaimana bisa rasa ini mengusik lagi
mempertanyakan kembali arti seorang sahabat
siapa mereka?
bodoh bukan kepalang
menganggap mereka ada
berkata bahwa mereka selalu ada di hati
dibawa kemanapun aku pergi
kemanapun kakiku melangkah dan berlari
tapi apa?
aku bodoh lagi?
berkata aku paling mengerti mereka
paling baik di antara sahabat atau pun teman yang pernah mereka temui
nyatanya, salah satu dari mereka benar-benar mengatakan itu
lalu kini
aku berlari sebisaku
mencoba menjauh dari keinginan dan harapanku
lalu drama itu mengusik lagi pikiranku
aku pikir
sahabat memang ada
persahabatan memang seindah drama
lalu aku masih mencoba berlari
dengan pohon yang rindang daunnya di kanan dan di kiri
aku sebisa mungkin melihat terus ke arah depan
tapi otakku berputar
otakku berjalan berlawanan
otakku
memoriku
mempertontonkan wajah-wajah yang semestinya tak ku ingat
karena kini kita berbeda
tak lagi sama
tapi aku sangat suka dengan film itu
film yang benar-benar mirip drama persahabatan
aku merasa akan mati di sekeliling mereka
akan mati membawa senyuman mereka
bodoh
otakku
memoriku
mempertotonkan film itu tanpa jeda
tanpa ada sedikit pun kesalahan
dan mungkin
aku yang telah salah
iyakah?
salahkah aku?
memang selama ini aku sudah pernah meminta apa?
sampai setiap pesan yang kusampaikan
tak pernah ada yang mengindahkan
memang selama ini aku sudah pernah meminta apa?
sampai setiap kali ku merindukan mereka
hatiku malah hancur berkeping-keping
memang sejauh ini aku sudah menyusahkan sebesar apa?
sampai aku dibiarkan tak bisa hidup tanpa mereka
mungkin ini hanya tentang kedewasaan
yang belum juga datang menghampiri
jiwa yang memang tak ingin dihampiri
---------------------------------------------------------------------------------------
nabilah semoga sehat terus yaaaa
sakinah semoga sehat terus yaaaa
afi hana vemi semoga sehat terus yaaaa
ampuni atas kekanak kanak kan ku
[http://izzatun-hitamputih.blogspot.com/2013/09/sedang.htm]

*********************************
Nad, sebenernya tulisan ini bener2 penuh emosi. Mungkin sounds nonsense, but I really feel it. Mungkin gw sedikit tersentil dan tersinggung di sini. Gw mengiya-kan segala tulisan lu. Dan gw sangat iri dengan tulisan ini. Ini. Aduh speechless lah ane!
Gimana bisa? Gimana bisa lu nuangin semua ini dalam bahasa sejenis ini?
Gimana bisa secara tiba-tiba pohon yang rindang daunnya di kanan kiri itu tiba-tiba muncul di imajinasi lu?
Apa ada sinetron/film yang menggambarkan kisah seperti ini?
Rasa itu juga sering megusik gw kok, Nad.
Terlepas itu kepada lu dan Sakinah, atau temen2 SS dan Pandawa, atau apapun yang berhubungan dengan masa lalu gw, terutama selama 3 tahun ada di 'sana', Nad. 
Beberapa kali juga gw membiarkan diri gw tenggelam dalam rasa kangen itu. Mungkin bisa sampe satu jam gw memutar kembali memori itu, dan makin ajib kalau nostalgianya sambil liat foto, atau baca postingan saat2 itu, aduhai banget rasanya galau maksimal, Nad.

Tapi, ya I was just like you! Pada akhirnya gw sadar,

mungkin ini hanya tentang kedewasaan
yang belum juga datang menghampiri
jiwa yang memang tak ingin dihampiri
Tapi kerennya lo adalah, lo bisa nuangin semua itu dalam suatu maha karya seperti ini. Kalau gue, mungkin keseringan kangennya kali ya, sampe2 gw udah males kalo rasa itu udah mulai datang, gw usir jauh2 deh, Nad.
Masa lalu itu, menurut gw ya, tergantung gimana lo menafsirkan saat ini, kehidupan yang sedang lu jalani sekarang.
Kalau gw boleh menduga kenapa memori itu datang...
Memori itu datang salah satunya 'mungkin' karena gw belum bisa melihat hari ini secara positif. Gw melihat sekarang sebagai sesuatu yang suram (sebut saja permasalahan yang ada di kampus, ini yang sering banget gw alami nad), dan saat itu, entah kenapa gw cenderung membandingkan saat ini dengan saat itu. Dan, *tada* muncullah memori itu. Padahal masa2 itu juga tidak sepenuhnya indah, kan. Kenapa yang muncul itu selalu happy moments doang -__-

Mungkin kita harus sama-sama belajar, Nad.
Let's see from the bright side! :)
Lihat sisi positif dari sesuatu yang negatif sekalipun.
Menyebalkan memang menjalani ini.
Tapi tenggelam dalam memori itu kadang jauh lebih buruk rasanya.

Salam melankolis dari Nabilah Amany 
dengan permohonan maaf karena baru baca postingan itu sekarang :')

Komentar