Bulan kemarin tuh, lagi gembor2nya aksi pergerakan mahasiswa
sepertinya
Penyebabnya menurut saya sih gara2 di komporin oknum2 yang
mempertanyakan #kemanamahasiswa sampe2 ada hastag #savemahasiswa.
Sejujurnya gak tersindir kok, soalnya ya saya memang gak
kemana-mana, selalu di kampus, mahasiswa kan kuliah L kalau hastagnya diganti
#kemanapemerintah atau #savepemerintah aja boleh ngga, pemerintah kan gak
kuliah.
Hahaha bocah emang.
Kalau saya sih sejujurnya sangat tertarik dengan isu
pergerakan, apalagi kalau udah turun ke jalan, rasanya ada sensasi yang berbeda
ketika meneriakkan jargon “HIDUP MAHASISWA!” itu loh, ngerasa “mahasiswa
banget” aja gitu. Tapi saya akui ya memang tidak 24 jam per hari saya mikirin
hal2 begituan. Emang mahasiswa jaman dulu mikirin gitu terus2an ya sampai
mahasiswa sekarang disindir sebegitunya.
Mahasiswa sekarang jelas bukan pemuda pemudi bambu runcing
yang terbius oleh slogan-slogan pembentuk 'patriotisme' yang dipublikasikan
Walaupun kalau boleh mewakili, saya sebagai mahasiswa pun kadang masih terkagum-kagum dan terjajah oleh dunia barat.
Pusing lah pala gw mikirin politik yang kalau boleh mengutip kata-kata Herman ini kayak taik kucing
Bulan kemarin, otak saya juga puyeng mencerna buku-buku tentang
sertifikasi ekolabel dan pengelolaan hutan lestari (SFM) di Indonesia. Ada 3
rujukan yang saya baca, 2 buku dari perpustakaan Fahutan, 1 buku dari pinjaman
kakak tingkat. Di pertengahan buku ke-3, saya mulai muak,
mulai puyeng, mulai pengen ngerobek bukunya, habisnya kesel, gak nemu titik
terang yang saya cari. Akhirnya saya skip 2-3 bab yang kira-kira isinya gak saya ngerti. Pada intinya baca buku tuh gini. Saya senang mengetahui sesuatu yang baru tapi di sisi lain saya semakin putus asa, takut, cemas, dan pesimis menghadapai masa depan. Hukum de jure dan de facto itu memang akan terus berlaku, Sebagai solusi dari keruwetan ini, saya dipinjami buku tentang ya kurang lebih pergerakan dakwah oleh teteh mentor saya. I'm so grateful and thankful. Bukunya sangat menenangkan dan yang paling penting adalah ngasih titik terang :)
Bulan kemarin juga.. bahkan sampai sekarang... dan saya yakin ini bakal terjadi seterusnya.
Saya pusing mikirin sistem apa yang sebenernya sedang berjalan di fakultas saya
Saya pun gak tahu mulai kapan sangat sulit untuk mengatakan tidak pada sesuatu hal yang menurut saya salah
Saya pernah berpikiran, untuk apa melakukan semua ini, segala kritikan pada sistem ini malah nambah banyak musuh dan semakin dikit orang yang mengerti saya. Dan kritikan itu pun tidak akan merubah keadaan. Mungkin akan berubah, tapi entahlah peridiksi waktunya di luar jangkauan umat manusia. Jadi apa yang sebenarnya saya lakukan kalau begitu? Saya ingin merubah sesuatu tapi keadaan tidak berubah. Ujung-ujungnya orang lain hanya akan menganggap ini opini konyol.
Ya. Itulah masa-masa kritis saya ketika dilanda kepesimisan. Saya merasa seperti rakyat pinggir jalan, hanya menunggu sosok yang berani mengatakan yang benar, walau saya yakin sosok itu tidak akan dapat dukungan suara dari kaum mayoritas, tapi saya bisa menjamin bahwa sosok itu akan mendapat dukungan tanpa suara dari minoritas yang tidak berani membuka mulutnya karena terbungkam kekuasaan. Inilah kemerdekaan untuk mengatakan 'ya' atau 'tidak' meskipun cuma di dalam hati saja.
Oiya, Nabilah Amany selamat menginjak usia 20 ya. Semoga semakin menjadi muslimah yang sesungguhnya.
"Dewasa aplikatif itu menginjak usia 20"
Itu kata seorang Nabilah Amany saat menginjak usia 17 tahun yang sudah dewasa secara teoritis.
Wiw, 3 tahun pun berlaluu~
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus