Saya mulai bingung dengan diri
saya di minggu ini
Dimulai hari Senin. Pagi itu saya
mau berangkat kuliah, di lampu merah saya berhenti, saya berhenti tepat di
sebelum garis putih zebra cross, memang masih ada jarak sekitar 2 meter sampai
ke batas ujung lampu merah berada. Tiba-tiba saya dikalksonin motor2 di
belakang saya dan neriakin “Mba, maju mba”. Saya bilang “Kenapa?”. Belum bapak
itu jawab, motor2 di belakangnya keburu nglaksonin saya. Saya majuin motor saya
dengan bodohnya. Semudah itu ternyata saya menyerah pada orang2 yang
menyepelekan rambu jalan. Diperjalanan, saya ngedumel sendiri, sembari sekali-kali
istighfar. Saya merasa sangat malu dan bodoh saat itu.
Hari Selasa. Saya ada kuliah jam
7 di Fakultas saya. Saya tiba jam 07.06 dan beberapa teman saya sudah ada yang
nunggu di depan pintu kelas. Ternyata kami tidak diizinkan masuk kelas. Ketua
angkatan saya angkat bicara, mencoba melobby dosennya kalau pada kontrak kuliah
jelas ada toleransi keterlambatan 15 menit. Dosennya bilang kalau di jam ‘beliau’
itu sudah melebih batas toleransi. Saya tidak mau berontak. Saya tidak mau
bernasib sama seperti Soe Hok Gie yang nilainya dipotong karena sering
berontak. Akhirnya saya pergi sarapan.
Hari Rabu. Saya menanyakan kepada
salah satu dosen saya tentang dampak negatif dari konservasi exsitu yang
merusak relung ekologi yang ada di alam bebas. Beliau menyetop pertanyaan saya,
padahal inti yang saya ingin tanyakan belum saya sampaikan, yaitu masalah indikator.
Beliau langusng menjawab pertanyaan saya dan memang sesuai dengan apa yang
sebenarnya ingin saya tanyakan. Di situ lagi-lagi saya merasa bodoh. Sorenya
saya ada responsi salah satu matakuliah penunjang dari departemen sains
komunikasi dan pengemabangan masyarakat. Materi yang kami bahas tentang teori
akses dan bacaan yang kami diskusikan kebetulan tentang teori akses pada sektor
kehutanan terutama membahas konflik yang terjadi antara masyarakat hukum adat, pemegang
konsesi, dan pemerintah. Dan pertanyaan inti dari kelas ini adalah, siapa yang
sebenarnya berkuasa.
Pada kuliah sebelumnya, dosen
saya sangat memuja kinerja Soeharto pada masa pemerintahan Orde Baru yang
jelas-jelas menurut saya paling merusak sektor Kehutanan Indonesia. Beliau
berkata bahwa ide Soeharto untuk bebas memberikan HPH kepada partai2 atau
golongan yang sedang ricuh dipikir akan memberhentikan kekacauan. Padahal disitu
awal mulanya kehancuran sektor Kehutanan Indonesia. Saya sebenarnya takut
memakan omongan saya sendiri. Beliau bilang “Saya pendemo Soeharto saat saya
mahasiswa, dan sekarang saya mula menyadari betapa cerdasnya ia”. Saat itu
jelas pemerintah berkuasa, karena masih berpacu pada sistem pusat, pemabalak
hutan pun jarang ada karena sekali ketahuan akan langsung berhadapan dengan
TNI, jelas berbeda dengan sistem desentralisasi yang dianut saat ini.
Saya kadang mulai bete kalau
mulai ngedumel sendiri. Terus ngritik orang. Serasa diri sendiri paling bener.
Tapi kadang saya sendiri memang lelah untuk berbohong, kalau kata beliau sih “Lebih
baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”. Tapi jujur saya mah masih
makhluk sosial yang gak sanggup kalau diasingkan semacam itu.
Hari Kamis. Malam ini. Saya ikut
musyawarah besar pemilihan ketua MPF (read:ospek) di fakultas saya. Berbicara
masalah kriteria, (kalau saya sih), saya sangat tidak setuju sebenarnya kalau
IPK itu tidak dijadikan indikator. Karena jelas di kriteria sebelumnya tersebut
bahwa yang terpilih harus dapat : membagi waktu antara kegiatan ini dengan
akademiknya, harus bisa bertanggung jawab pada diri sendiri (termasuk
akademik), harus punya intelektual, dan bisa menjadi contoh. Betu sekali itu
kriteria yang normatif dan butuh indikator yang jelas untuk penilaian. Dan
menurut saya, IPK itu bisa dijadikan indikator penilaian. Tapi pada akhirnya,
saya ditolak. Dan lagi2 saya menyerah. Sepele sih. Life is for nothing. Secara
tidak langsung saya merasa hanya diberi 2 pilihan : 1. Apatis atau 2. Mengikuti
arus
Astaghfirulloooh
Saya tuh kadang bener2 ya
Udah bandel, nakal, tengil lagi.
#edisicurhat
#pastiberlanjut
Komentar
Posting Komentar